Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 1)


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Indonesia berada pada iklim tropis dengan temperatur dan kelembaban yang tinggi serta curah hujan yang tinggi merupakan faktor yang mempercepat proses pelapukan bahan induk, pencucian, pelindian, erosi serta deposisi. Selain itu topografi, aktivitas gunungapi, serta aktivitas manusia juga merupakan faktor yang menyebabkan pedogenesis tanah dapat terhambat. Adapun jenis dan karakteristik tanah yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut.

Tanah Organik

Tanah organik merupakan tanah yang telah terendam air dalam waktu yang lama atau setidaknya selama 1 bulan dan mengandung bahan karbon organik > 12% jika berlempung atau mengandung bahan karbon organik > 18% jika berlempung 60% dan lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah organik dapat digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan atas tanah dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah organik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;

  1. Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air tinggi dan berwarna coklat;
  2. Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya, masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18, dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
  3. Saprik merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, BJ > 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu tinggi dengan warna hitam dan coklat kelam;

Tanah Mineral

Litosol

Litosol merupakan tanah yang sangat muda, sehingga bahan induknya sering terlihat dangkal atau < 20 cm, profilnya belum memperlihatkan horison penciri dengan sifat-sifat dan ciri morfologi yang masih menyerupai batuan induknya. Tanah litosol tidak berkembang karena pengaruh iklim yang lemah atau terlalu agresif, letusan gunungapi, atau topografi dengan kemiringan yang tinggi. Proses pembentukan tanah lebih lambat dari proses penghilangan tanah akibat dari erosi, sehingga solum tanah cenderung semakin dangkal. Proses peremajaan tanah dapat terjadi akibat dari tertutupnya permukaan tanah karena banjir lahar dingin atau tuf vulkanis. Tanah litosol yang berada pada topografi yang tidak rata maka lingkungan alkalis dapat menyebabkan lempung 2/1 yang terbentuk sangat peka terhadap erosi. Tanah litosol ini banyak terdapat pada daerah pegunungan kapur dan karst di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa tenggara, serta Maluku bagian selatan.

Aluvial

Tanah Aluvial merupakan tanah endapan yang terjadi karena proses luapan banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan belum ada diferensiasi horison. Endapan aluvial yang sudah tua dan menampakkan akibat pengaruh iklim serta vegetasi tidak termasuk kedalam jenis tanah aluvial. Ciri khas pembentukkan tanah aluvial adalah bagian terbesar bahan kasar akan diendapkan tidak jauh dari sumbernya. Tekstur tanah yang diendapkan pada waktu dan tempat yang sama akan lebih seragam, dan semakin jauh dari sumbernya maka makin halus butir yang diangkut. Karena itu jika pembentukan terjadi pada musim hujan maka sifat bahan-bahannya juga tergantung pada kekuatan banjir serta asal dan macam bahan yang diangkut, oleh karena itu menampakkan ciri morfologi berlapis yang bukan merupakan hasil perkembangan tanah. Sifat tanah aluvial dipengaruhi langsung oleh sumber bahan asal, sehingga kesuburannya juga ditentukan oleh sifat bahan asalnya. Jika dilihat berdasarkan genese tananhnya, maka tanah aluvial kurang dipengaruhi oleh iklim dan vegetasi, tetapi yang paling nampak pengaruhnya pada ciri dan sifat tanahnya ialah bahan induk dan topografi sebagai akibat dari waktu terbentuknya yang masih muda. Menurut bahan induknya terdapat tanah aluvial pasir, lempung, dan kapur. Dengan memperhatikan cara terbentuknya maka fisiografi untuk terentuknya tanah ini terbatas pada lembah sungai, datarn pantai, dan bekas danau, yang memiliki relief datar dan cekung. Tanah aluvial di Indonesia pada umumnya baik untuk komoditas pertanian dan perkebunan berupa padi, palawija, dan tebu. Tanah aluvial di indonesia ada pula yang dimanfaatkan untuk tambak bandeng dan gurameh.

Pasiran

Tanah pasiran pada umumnya belum jelas membentuk diferensiasi horison, meskipun pada tanah pasiran tua horison sudah mulai terbentuk horison A1 lemah berwarna kelabu, mengandung bahan yang belum mengalami pelapukan. Tekstur tanah pada umumnya kasar, struktur kersai atau remah, konsistensi lepas sampai gembur, dan pH 6 – 7. Semakin tua umur tanah struktur dan konsistensinya makin padat, bahkan dapat membentuk padas dengan drainase dan porositas yang terhambat. Pada umumnya jenis tanah ini belum membentuk agregat, sehingga peka terhadap erosi. Tanah pasiran pada umumnya mengandung unsur P dan K yang masih segar dan belum siap untuk diserap tanaman, tetapi unsur N terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit. Berdasarkan bahan induknya tanah pasiran dapat dibedakan menjadi 3 yaitu; (1). Abu vulkanik pada daerah-daerah vulcanic fan (lahar vulkanik yang ke bawah melebar seperti kipas), (2).  Bukit pasir sand dune biasanya terdapat pada daerah pantai, (3). Batuan sedimen dengan topografi bukit lipatan.

Tanah Merah

Tanah merah merupakan tanah yang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia muali dari tepi pantai yang landai hingga pegunungan tinggi yang berbukit atau bergelombang, dengan kondisi iklim agak kering hingga basah, terbentuk dari batuan beku, sedimen atau malihan. Variasi tanah merah yang baru dijumpai digolongkan ke dalam Podzolik Merah Kuning, sehingga jenis tanah tersebut mampunyai ciri dan sifat yang terluas.

Latosol

Tanah latosol merupakan tanah yang meliputi semua tanah zonal di daerah tropika dan katulistiwa mempunyai sifat-sifat dominan yaitu; (1). Nilai SiO2 fraksi lempung rendah, (2). Kapasitas pertukaran kation rendah, (3). Lempungnya kurang aktif, (4). Kadar mineral rendah, (5). Kadar ahan larut rendah, (6). Stabilitas agregat tinggi, (7). Berwarna merah.  Latosol meliputi tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut, sehingga terjadi pelindian unsur basa, bahan organik dan silika, dengan meninggalkan sesquioksid sebagai sisa berwarna merah. Ciri morfologi yang umum adalah tekstur lempung sampai geluh, struktur remah sampai gumpal lemah dan konsistensi gembur. Warna tanah sekitar merah tergantung susunan mineralogi, bahan induk, drainase, umur tanah dan keadaan iklim. Latosol terbentuk di daerah-daerah beriklim humid tropika tanpa bulan kering sampai subhumid yang bermusim kemarau agak lama, bervegetasi hutan basah sampai savana, bertopografi bergelombang sampai berbukit dengan bahan induk hampir semua macam batuan. Tanah latosol terdapat pada daerah tropis hingga subtropis. Di Indonesia tanah latosol pada umumnya berasal dari batuan induk vulkanik, baik tuff maupun batuan beku, terdapat mulai dari tepi pantai sampai ketinggian 900m dpal dengan topografi miring, bergelombang, vulcanic fan hingga pegunungan denga iklim basah tropis curah hujan 2500 – 7000 mm.

Mediteran Merah Kuning

Jenis tanah ini memiliki hubungan dengan iklim laut  tengah (miditerania) yang dicirikan dengan musim dingin banyak hujan dan musim panas kering. Tanah ini pertama kali ditemukan dan diselidiki sekitar laut tengah disepanjang pantai Eropa, sepanjang pantai asia barat yang mengitari laut tengah. Selain itu tanah inipun terdapat di Amerika Selatan dan Asia Tenggara (Indonesia, Laos, Filipina). Jenis tanah ini terutama yang merah juga terkenal dengan nama Terra Rossa. Dibandingkan dengan batu kapur sebagai bahan induk tanah Mediteran Merah Kuning memperlihatkan akumulasi sesquioksida dan silika, sedangkan jika dibandingkan dengan jenis-jenis tanah dari daerah humid seperti latosol, jenis tanah ini mempunyai lebih kadar alkali dan alkali tanah. Tingginya kadar Fe dan rendahnya kadar bahan organik menyebabkan tanah Mediteran Merah Kuning berwarna merah mengkilat, bertekstur geluh dan mengandung konkresi Ca dan Fe. Di Indonesia tanah jenis ini lanjut mengalami pembentukan tanah dengan cara lixiviasi dan kalsifikasi lemah, tekstur berat, konsistensi lekat, kadar bahan organik rendah, reaksi alkalis, derajad kejenuhan bsa tinggi, horison B tekstur berwarna kuning merah, mengandung konkresi-konkresi kapur dan besi, horison eluvial umumnya tererosi, dengan topografi berbukit sampai pegunungan. Jenis tanah ini berasal dari dari batuan basaltik terdapat di daerah Baluran Jawa Timur yang berasal dari batu kapur di Gunung Kidul, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara.

Jenis-Jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)

About these ads

6 thoughts on “Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s