Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD)


Latar Belakang

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Sumberdaya alam merupakan salah satu modal yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan untuk menunjang pengembangan suatu wilayah. Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus memperhatikan konservasi dan upaya untuk kelestarian fungsi ekosistemnya. Untuk mendukung keberhasilan usaha tersebut, perlu diketahui lokasi keterdapatannya dengan pasti potensi dan kondisi sumber daya yang ada di suatu wilayah, sehingga dapat dibuat perencanaan yang tepat dalam pengembangan wilayah tersebut.

Salah satu alternatif caranya yaitu melalui penyusunan neraca sumber daya alam. Neraca sumber daya alam disepakati dalam empat komponen sumber daya alam yaitu sumber daya lahan, hutan, air, dan sumber daya mineral. Dalam Neraca sumber daya alam terdapat informasi mengenai besarnya sumber daya/cadangan setiap jenis mineral, jumlah mineral-mineral yang telah dimanfaatkan dan cadangan yang masih tersisa (saldo) serta besarnya pembiayaan pemulihan lingkungan di dalam pelaksanaan eksploitasi (pemanfaatannya), yang kesemuanya dapat dikonversikan dalam nilai rupiah sesuai harga terbaru yang berlaku dari waktu ke waktu sesuai dengan tahun anggaran (APBD) kabupaten. Selain informasi tersebut, hal yang penting lainnya adalah adanya informasi spasial atas persebaran lokasi sumber daya alam tersebut di suatu wilayah. Dengan demikian, neraca sumber daya alam yang disusun juga bersifat spasial/keruangan. Continue reading

Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian II)


3. Tanah

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya drainase tanah, tekstur, kedalaman tanah dan retensi hara (pH, KTK), serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas, bahaya erosi, dan banjir/genangan.

Drainase

Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel karakteristik kelas drainase tanah untuk evaluasi lahan. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman, terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 1 dan 2. Drainase tanah kelas kelas 3, 4 dan 5 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena sering jenuh air dan kekurangan oksigen.

Tekstur

Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir, debu dan liat. Tekstur dapat ditentukan di lapangan dengan cara manual, atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur. Continue reading

Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian I)


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976). Hubungan antara kualitas dan karakteristik lahan evaluasi lahan menurut Djaenudin et al. (2003) dapat dilihat pada tabel berikut ini.

1. Topografi

Dalam evaluasi lahan, faktor topografi yang perlu diperhatikan adalah lereng (relief) dan ketinggian (elevasi). Faktor lereng erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi, sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Berikut ini disajikan tabel klasifikasi relief, dimana klasifikasi tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan tujuan pemanfaatan. Continue reading

Evaluasi Lahan


Pengertian Evaluasi Lahan

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Pada umumnya survey tanah adalah bertujuan untuk mengevaluasi lahan dalam rangka untuk menyusun rencana penggunaan lahan dalam bentuk klasifikasi kesesuaian dan kemampuan lahan (potensi lahan). Evaluasi merupakan intepretasi dalam keadaan tata guna lahan saat ini, perubahannya serta dampaknya yang tidak mengacu pada suatu metode evaluasi atau klasifikasi. Klasifikasi menunjukkan tipe penggunaan yang sesuai dan jenis masukan yang diperlukan untuk produksi tanaman secara lestari.

Perubahan lahan pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomi, konsekwensi sosial serta dampaknya terhadap lingkungan. Dengan demikian maka melalui evaluasi lahan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. Continue reading

Indikator Dasar Mutu Tanah


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Indikator dasar mutu tanah ialah ciri tanah yang dinilai ukurannya mengkuantitatifkan besarnya cekaman (stress), ciri habitat, tingkat paparan menghadapi pencekam (exposure to stressor), atau tingkat tanggapan ekologi dalam menghadapi pencekam. Suatu perangkat indikator dasar mutu tanah seharusnya memenuhi kriteria kesesuaian sebagai berikut.

  1. Mencakup proses-proses ekosistem dan berkaitan dengan pemodelan berkiblat proses;
  2. Memadukan sifat dan proses fisik, kimia, dan biologi tanah;
  3. Terjangkau oleh banyak pengguna dan terterapkan pada keadaan lapangan;
  4. Peka terhadap perubahan pengelolaan dan iklim;
  5. Apabila mungkin merupakan komponen pangkal data tanah (soil data base) yang ada.

Sedangkan perangkat indikator yang digunakan untuk analisis dampak penggunaan tanah adalah sebagai berikut.

  1. Parameter diagnostik pengukur tingkat usikan;
  2. Nilai ambang kemantapan tanah selaku sistem dengan topangan teknologi sepadan (appropriate technology) sebagi baku fungsi optimum tanah. Indikator sumber usikan/dampak untuk memilahkan dampak setempat dan dampak impor serta mengenali perilaku kegiatan penggunaan tanah dalam membangkitkan dampak.

Parameter fisik tanah yang digunakan untuk memeriksa dampak penggunaan tanah atau lahan adalah meliputi gerakan atau perpindahan tanah, pemampatan tanah, dan endapan. Continue reading