Radioaktifitas Alam di Lereng Gunungapi Merapi (Bagian 2)


(penulis : Erfan Taufik Ardianto)

Radioaktifitas Alam di Lereng Gunungapi Merapi

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Pembentukan Gunungapi Merapi terbagi dalam 5 tahap, yaitu pra Merapi (>400.000 tahun yang lalu), Merapi tua berumur antara 400.000 sampai 6.700 tahun yang lalu, kemudian tahap ketiga adalah Merapi menengah antara 6.700–2.200 tahun yang lalu, Merapi muda 2.200–600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu. Pemetaan geologi Gunungapi Merapi dalam Tahun 1989 menyebutkan hanya dua waktu, yaitu batuan Gunungapi Merapi muda dan Merapi tua. Batuan Gunungapi Merapi Muda terdiri dari aliran lava andesit piroksen, endapan jatuhan piroklastika Merapi, endapan aliran piroklastika muda dan guguran Merapi, dan endapan lahar muda. Sedangkan batuan Merapi tua terdiri dari endapan aliran piroklastika tua Merapi, endapan lahar tua Merapi, dan aliran lava andesit piroksen (Wirakusumah A.D., 1989). Continue reading

Radioaktifitas Alam di Lereng Gunungapi Merapi (Bagian 1)


(penulis : Erfan Taufik Ardianto)

Gunungapi Merapi

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Bumi, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatannya tersusun atas empat (sfera), yaitu: atmosfera, hidrosfera, lithosfera dan biosfera. Semua lapisan (sfera) tersebut menjadi suatu sistem, yang dalam jangka panjang telah mencapai keseimbangan. Dalam studi ilmu lingkungan lapisan (sfera) tersebut disederhanakan menjadi komponen: udara, daratan, air dan biotik. Komponen darat itu tersusun oleh tanah dan batuan dengan berbagai struktur. Tanah itu sendiri merupakan bagian batuan yang telah lapuk. Batuan dengan berbagai macam variasi dan keadaannya merupakan wadah dari sebagian besar kegiatan mahluk hidup di bumi ini, selain itu juga menjadi sumber (resources) bagi kehidupan (PPLH UGM, 2001). Continue reading

Radiotoksisitas pada Batubara


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Pembangunan di Indonesia yang berkembang pesat dewasa ini terutama dalam bidang industri telah mengakibatkan kebutuhan tenaga listrik meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan tenaga listrik yang makin meningkat ini antara lain diperoleh dari usaha diversifikasi berbagai macam sumber energi yang dapat diperoleh di Indonesia. Salah satu diversifikasi energi yang dilakukan adalah pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar untuk memperoleh tenaga listrik. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan bahan bakar batubara secara besar-besaran telah dibangun di Suralaya (Jawa Barat) dan di Paiton (Jawa Timur). Dalam waktu dekat ini juga akan dibangun PLTU batubara di daerah Ujung Jati (Jawa Tengah) yang diharapkan akan dapat mencukupi keperluan tenaga listrik bagi kegiatan industri yang terus meningkat. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik memang dapat menghasilkan tenaga listrik dengan biaya yang relatif murah, namun dampak pencemaran yang ditimbulkan oleh pembakaran batubara perlu kiranya mendapat perhatian yang seksama, agar pembangunan berwawasan lingkungan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Continue reading

Meteorologi dalam Kajian Pencemaran Udara


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Peranan meteorologi dalam mengkaji pencemaran udara adalah membantu dalam memperkirakan kemampuan udara untuk menyebarkan pencemar. Atmosfer merupakan tempat berkumpulnya semua jenis pencemar baik berupa gas, cair, maupun padat, karena itu pencemaran udara dapat merugikan kehidupan. Pencemaran udara lokal biasanya dapat dihamburkan atau dapat dihindari oleh adanya sirkulasi udara umum, tetapi kemungkinan besar pencemar tersebut akan diendapkan di tempat lain. Peranan atmosfer pada pencemaran udara adalah sebagai pengencer konsentrasi pencemar atau bertindak sebagai yang menyingkirkan pencemar udara, tetapi ada kalanya justru bertindak sebagai sumber pendauran (perputaran) kembali dari pencemar tersebut. Continue reading

Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Tebu (Saccharum officinarum)


KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN TEBU

Pemetaan Kesuburan Tanah pada Lahan Tebu untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Tebu dan Profit Perusahaan


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Tanah merupakan basis tumbuhnya tanaman, dan merupakan pendukung kehidupan hewan dan manusia yang berada di atasnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah dan banyak berkaitan dengan kesuburannya adalah: iklim, organisme (makhluk hidup), topografi, bahan induk atau batuan penyusun tanah, serta waktu.

Dalam penanaman tebu yang diharapkan adalah memperoleh hasil hablur yang tinggi. Hablur merupakan gula sukrosa yang telah dikristalkan. Dalam sistem produksi gula, pembentukan gula terjadi di dalam proses metabolisme tanaman. Proses ini terjadi di lapangan (on farm). Pabrik gula sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat ekstraksi untuk mengeluarkan nira dari batang tebu dan mengolahnya menjadi gula kristal. Hablur yang dihasilkan mencerminkan dengan rendemen tebu. Dalam prosesnya ternyata rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh keadaan tanaman (produktivitas) dan proses penggilingan di pabrik. Continue reading

Pengelolaan Lahan Pasca Penambangan Batubara di Kalimantan


PENDAHULUAN

Batubara

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Batubara adalah sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Batubara adalah bahan bakar fosil. Batu bara dapat terbakar, terbentuk dari endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara.

Jenis-jenis Batu Bara

Tingkat perubahan yang dialami batubara, dari gambut sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batubara. Batubara dengan mutu yang rendah, seperti batubara muda dan subbitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Batubara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah. Continue reading