Tata Cara Budidaya Tanaman Tebu (Bagian 2: Tanam “Planting”)


2. Tanam (Planting)

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Tanam merupakan kegiatan yang dilakukan untuk replanting cane (RPC). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tanam ini adalah menentukan varietas yang akan ditanam yaitu varietas yang tahan hama dan penyakit, memperhatikan bulan tanam, tebu RPC, berumur antara 6 – 8 bulan, murni (tidak tercampur varietas lain), daya kecambah tinggi, dan memiliki figur yang baik. Tebu yang ditanam berupa replanting cane (RPC) dan ratoon cane. Rencana replanting dilakukan dalam setiap musim tanam sebanyak ± ¼ (seperempat) dari luas total tanaman. Pembongkaran ratoon untuk rencana replanting didasari atas beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) produksi tebu per hektar; (2) keadaan hama dan penyakit; (3) keadaan gulma; dan (4) periode ratoon. Bulan tanam dan bulan tebang yang tepat perlu diperhatikan untuk memperoleh tingkat rendemen yang maksimal disesuaikan dengan varietas tebu yang tergolong masak awal, tengah, dan akhir.

Masa tanam bibit hendaknya disesuaikan dengan kategori umur kemasakannya sedemikian hingga masa tanaman baru (PC) tersedia bibit seperti kategori kemasakannya. Kategori kemasakan tebu terkait dengan lama tanaman tebu yang telah berumur fisiologi dewasa (lebih dari 9 bulan) mengalami kondisi lengas tanah rendah (kurang dari 50% kapasitas lapang) dan menunjukkan tingkat kecepatan masaknya, yaitu awal (Mei – Juni), tengah (Juli -Agustus) dan lambat (setelah September). Sedangkan umur tebu dipanen menentukan hasil tebu yang diperoleh. Tebu yang sama masak awal ditanam pada bulan Mei dan bulan Agustus akan siap ditebang pada bulan Mei-Juni dimana tanaman Mei telah berumur 12 – 13 bulan, sedang tanaman Agustus baru berumur 9 – 10 bulan. Tanaman tebu yang dipanen pada umur 12 – 13 bulan akan memberikan hasil tebu lebih tinggi dibandingkan tanaman yang dipanen pada umur 9 – 10 bulan. Oleh karena itu perencanaan tanam suatu varietas harus selalu disesuaikan dengan rencana tebang yang mengacu kepada kategori kemasakannya sehingga diperoleh hasil tebu dan tingkat rendemen yang tinggi.

 

Kegiatan tanam ini dilakukan saat lahan sudah selesai diolah,  adapun kegiatan tanam di antaranya meliputi:

a. Tebang bibit 

Tebang bibit merupakan kegiatan yang dilakukan pada luasan lahan dan varietas tebu tertentu. Bibit didapat dari kebun bibit yang sebelumnya telah ditentukan. Tebu yang akan digunakan untuk bibit ditebang sebagai tebu hijau (tebang hijau), yaitu bibit ditebang tanpa dibakar. Sebelum dilakukan penebangan, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit agar tidak terjadi varietas campuran yang berasal dari sisa pertanaman sebelumnya. Penebangan harus dilakukan secara benar. Topping tanaman tebu ditebang begitu pula batang tebu ditebang sampai pangkal batang. Permasalahan yang sering terjadi adalah banyak pekerja yang tidak menebang sampai pangkal batang. Alat yang digunakan untuk kegiatan ini yaitu golok. Kapasitas kerja dari tenaga tebang yaitu 900 m/orang/hari. Bibit yang ditebang diikat setiap 20 – 25 batang dan dipotong pada pucuknya dan diikat.

b. Angkut bibit

Pengangkutan dilakukan pada tebu bibit yang telah diikat (bundle cane) dengan menggunakan truk pengangkut dan didistribusikan ke areal yang telah diprogram untuk kegiatan penanaman. Pengangkutan ini harus dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Apabila tanah tidak becek, maka aturan masuknya truk untuk pendistribusian bibit yakni truk masuk ke areal pada setiap 8 kairan, bibit terikat diletakkan setiap 10 – 15 m, dan untuk double overlap diletakkan 8 ikat di kiri kanan truk.

c. Ecer bibit

Ecer bibit merupakan kegiatan yang dilakukan dengan membongkar bibit yang selanjutnya bibit diecer pada jalur-jalur tanam yang sudah dibuat dalam kegiatan pengolahan tanah. Pengeceran bibit dilakukan setelah dropping bibit ke lahan kemudian diecerkan dengan sistem single overlapping 50 % dengan bagian pangkal tebu bertemu dengan bagian ujung tebu. Sistem tanam overlapping dilakukan dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan dapat meminimalkan resiko tidak tumbuh.

d. Cacah bibit

Cacah bibit merupakan kegiatan yang dilakukan dengan memotong bibit menjadi 2 – 3 mata tunas. Hal ini dilakukan agar tunas dapat tumbuh dengan merata pada masing-masing bagian, perkecambahan tebu dapat menjadi seragam serta dapat cepat tumbuh. Jika tidak dilakukan pencacahan maka hanya ujungnya saja yang akan tumbuh tunas (dominansi apikal).

e. Irigasi

Sebagai tanaman asli (origin plant) dari daerah tropika basah, tebu digolongkan ke dalam tanaman yang memerlukan air dalam jumlah banyak namun peka terhadap kondisi lingkungan tumbuh yang berdrainase jelek. Tanaman ini relatif toleran terhadap cekaman air (water stress) sehingga pada daerah dengan curah hujan sekitar 1000 mm/th tebu masih mampu bertahan.

Selain masa tanam yang tepat dan tercukupinya makanan, faktor lain yang menjamin keberhasilan budidaya tebu yaitu air dapat dikendalikan. Dalam arti bila terjadi defisit air tanaman tebu dapat diberi tambahan air pengairan, demikian sebaliknya apabila terjadi kelebihan air dapat dipatus. Hasil penelitian menunjukkan untuk menghasilkan 1 kg tebu atau setara dengan 0,1 kg gula diperlukan sekitar 100 kg air; sedangkan untuk memproduksi 1 g berat tebu (segar), 1 g berat kering dan 1 g gula, diperlukan air berturut-turut sebesar 50 – 60, 135 – 150, dan 1000 – 2000 g air. Jumlah kebutuhan air sejalan dengan umur tanaman tebu sangat bervariasi tergantung pada fase pertumbuhan dan lingkungan tumbuhnya (agroekologi). Secara garis besar fase pertumbuhan tebu dibagi menjadi 4, yaitu: (1) perkecambahan (0 – 5 minggu), (2) pertunasan (5 minggu – 3,5 bulan), (3) pertumbuhan cepat (3,5 – 9 bulan), dan (4) pamasakan batang (~ 9 bulan). Puncak kebutuhan air pada tanaman tebu terjadi pada fase pertumbuhan cepat, yaitu mencapai 0,75 – 0,85 cm air / hari.

Irigasi bertujuan untuk memberi suplai air bagi tanaman, merangsang pertumbuhan tunas tanaman, dan meningkatkan kelembaban areal. Irigasi yang dilakukan yaitu irigasi terbuka pada saat sebelum bibit di-cover dan irigasi tertutup pada saat bibit sudah di-cover dengan lama irigasi 2 jam per perlakuan. Alat yang digunakan untuk irigasi berupa big gun sprinkler. Biasanya irigasi dilakukan sebelum covering setelah bibit dicacah, hal ini dilakukan agar tanah yang digunakan untuk menutup bibit tetap lembab, dan ini diharapkan mampu menjaga kelembapan untuk bibit sehingga dapat memacu perkecambahan tunas dengan baik.

f. Penimbunan/penutupan bibit (Covering)

Covering merupakan kegiatan penutupan bibit setelah dicacah dengan gundukan tanah yang remah. Covering harus tebal (10 – 15 cm) sehingga bibit mendapat ruang yang lebih besar untuk tumbuh. Jika areal pertanaman kering dan sangat ekstrim, maka dilakukan penyiraman dengan irigasi. 

g. Pemadatan (Compaction) 

Compaction merupakan kegiatan yang dilakukan setelah covering untuk meremahkan bongkahan tanah agar lebih halus, meminimalkan rongga-rongga di daerah pertanaman sehingga air tidak cepat menguap dan tidak hilang karena run off sehingga bibit tidak kering.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s