Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 2)


Kelas III

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Dibandingkan dengan kelas II, tanah pada lahan kelas III ini memiliki faktor penghambat lebih besar, jika akan dimanfaatkan untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan pengawetan khusus yang umumnya lebih sulit baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Faktor-faktor penghambat pada lahan kelas III antara lain; lereng agak miring atau sangat peka terhadap bahaya erosi, kondisi drainase buruk, permeabilitas tanah sangat lambat, solum dangkal yang membatasi daerah perakaran, kapasitas menahan air rendah, serta kesuburan yang rendah dan tidak mudah untuk diperbaiki. Jika lahan ini akan dimanfaatkan maka memerlukan tindakan pengawetan khusus diantaranya perbaikan drainase, melakukan sistem pertanaman seperti penanaman dalam jalur atau bergilir dengan tanaman penutup tanah, pembuatan teras, selain itu diperlukan pemupukan dan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Continue reading

Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan Menurut USDA (bagian 1)


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Klasifikasi kemampuan lahan adalah klasifikasi lahan yang dilakukan dengan metode faktor penghambat. Dengan metode ini setiap kualitas lahan atau sifat-sifat lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk atau dari yang paling kecil hambatan atau ancamanya sampai yang terbesar. Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas; penghambat yang terkecil untukkelas yang terbaik dan berurutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya. Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat, sehingga kelas kemampuan adalah kelompok unit lahan  yang memiliki tingkat pembatas atau penghambat (degree of limitation) yang sama jika digunakan untuk pertanian yang umum (Sys et al., 1991). Tanah dikelompokan dalam delapan kelas yang ditandai dengan huruf Romawi dari I sampai VIII. Kelas I hingga kelas IV merupakan kelas yang dapat ditanami, sedangkan kelas V hingga kelas VIII merupakan kelas yang tidak dapat ditanami.

Continue reading

Klasifikasi Kesesuaian Lahan


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Klasifikasi lahan dapat dibagi menjadi 2 yaitu, klasifikasi kuantitatif dan klasifikasi kualitatif berdasarkan dari data yang ada atau yang tersedia (FAO). Klasifikasi kuantitatif adalah klasifikasi yang memuat informasi kepada pemakai bahwa dimana hasil penelitian beserta unsur-unsur ekonomi telah dipetimbangkan didalamnya. Jika dalam suatu penelitian belum mempertimbangkan unsur-unsur ekonomi maka belum dianggap sebagai klasifikasi kuantitatif. Klasifikasi kesesuaian lahan dapat dibagi menjadi 4 kategori yang merupakan hasil generalisasi yang bersifat menurun yaitu; (1) ordo kesesuaian lahan (order): menunjukkan jenis atau macam kesesuaian atau keadaan kesesuaian secara umum, (2) kelas kesesuaian lahan (class): menunjukkan tingkat kesesuaian dalam kelas, (3) subkelas kesesuaian lahan (subclass): menunjukkan jenis pembatas (subkelas atau macam perbaikan yang diperlukan di dalam kelas, (4) unit/satuan kesesuaian lahan (unit): menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam subkelas. Continue reading

Fungsi Tanah Dalam Pencemaran Lingkungan


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari limbah atau buangan dan sampah  yang dihasilkan baik berupa limbah domestik rumahtangga maupun limbah industri. Limbah dapat didefinisikan sebagai hasil dari suatu proses yang memiliki nilai komersial rendah atau hasil yang tidak bermanfaat. Sampah merupakan bahan yang dibuang setelah dimanfaatkan, oleh karena itu perlu diperhatikan perbedaan antara limbah dan sampah. Baik limbah maupun sampah merupakan bahan atau zat pencemar yang bersifat pengotor terhadap lingkungan. Hal ini karena zat pencemar tersebut bersifat racun baik bagi tumbuhan, hewan, maupun manusia. Selain itu sampah dan limbah dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, menyebabkan eutrofikasi perairan, dapat meningkatkan temperatur perairan yang dapat menimbulkan permasalahan terhadap biota yang terdapat diperairan tersebut. Continue reading

Introduksi Spesies


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Introduksi spesies adalah masuknya atau berpindahnya suatu jenis spesies dari habitatnya di suatu tempat ke tempat lainnya baik dilakukan secara sengaja maupun secara tidak sengaja. Introduksi spesies ini bisa berakibat positif maupun negatif terhadap daerah yang baru dimasuki oleh spesies baru tersebut. Spesies-spesies yang dapat berpindah pada suatu tempat ke tempat lainnya pada umumnya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga spesies ini mampu bertahan bahkan berkembang biak dengan baik pada lingkungannya yang baru. Ada beberapa spesies yang justru perkembangannya menjadi tak terkendali sehingga menjadi hama dan merugikan manuasia. Continue reading

Parameter Penentu Kesuburan, Produktivitas, Kemampuan Serta Kesesuaian Tanah


Kesuburan Tanah

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Parameter yang digunakan untuk menentukan kesuburan tanah adalah; jeluk efektif, struktur, konsistensi, internal drainage, daya simpan lengas, kadar hara (N, P, K, S, Ca, dan Mg), KPK, cadangan mineral terlapukan, pH, kadar bahan organik, sifat bahan organik, kejenuhan basa, serta kandungan zat beracun (kejenuhan Al, Mn)

Produktivitas Tanah Continue reading

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)


Tanah Lateritik

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.

Tanah Podzolik Merah Kuning

Tanah Podzolik Merah Kuning di Indonesia mempunyai lapisan permukaan yang sangat terlindi berwarna kelabu cerah sampai kekuningan di atas horison akumulasi yang bertekstur relatif berat berwarna merah atau kuning dengan struktur gumpal, agregat kurang stabil dan permeabilitas rendah. Kandungan bahan organik penjenuhan basa dan pH rendah (4,2 – 4,8). Perkembangan lapisan permukaan yang terlindi kadang-kadang kurang nyata. Jenis tanah ini di Indonesia terbentuk dalam daerah beriklim seperti Latosol, perbedaannya hanya karena bahan induk Latosol berasal dari batuan vulkanik basa dan intermediate, sedangkan tanah podzolik berasal dari batuan beku dan tuff. Sebaran tanah podzolok merah kuning di Indonesia tersebar di beberapa wilayah diantaranya di Sumatera, Kalimantan, Jawa Tengah, dan Jawa Timu, yang dimanfaatkan untuk daerah perladangan dan perkebunan karet. Continue reading