Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 1)


Sumber : http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/

Download Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Peta tanah adalah alat pemberita visual tentang satuan tanah di suatu wilayah, baik mengenai penyebaran maupun sifat-sifatnya. Karena sifat tanah banyak, tidak mungkin seluruhnya dicantumkan dalam peta, maka uraian tersebut di tuangkan dalam klasifikasinya yang dapat dikenali pada setiap satuan peta tanah (SPT). Informasi pada SPT sangat tergantung pada sekala peta dan intensitas pengamatan di lapangan, yang disesuaikan dengan tujuan tertentu.

Klasifikasi tanah yang digunakan pada Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi mengikuti Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 1998). Sistem klasifikasi tanah ini mempunyai herarki yang berjenjang dalam 6 tingkat yaitu: tingkat ordo (order), subordo (suborder), grup (great group), subgrup (subgroup), famili (soil family), dan seri (soil series). Kategori rendah pada tingkat subgrup, famili, dan seri lebih sering digunakan pada pemetaan yang lebih detil. Berikut ini disajikan uraian singkat tentang sifat-sifat tanah Indonesia.

Histosols

Tanah yang kaya bahan organik, terdiri dari bahan saprik (matang), hemik (tengahan), atau fibrik (mentah), tergantung tingkat dekomposisinya. Tanah ini berkembang dari bahan tanah organik setebal  40 cm atau lebih, biasanya jenuh air selama 30 hari atau lebih dalam setahun pada tahun-tahun normal (kecuali telah didrainase). Berat jenis tanah dalam keadaan lembab tergolong rendah (0.1g/cm atau lebih). Tanah ini umumnya terdapat di daerah rawa dan lebih dikenal sebagai tanah gambut. Gambut yang tipis biasanya berupa gambut topogen dan bersifat subur (eutropik). Tanah gambut yang terlalu tebal biasanya berbentuk kubah (dome), bersifat masam, dan sangat miskin hara (terutama hara mikro). Apabila telah didrainase, tanah ini mengalami subsiden dan termineralisasi secara cepat. Apabila drainase berlebihan, tanah menjadi kering tak balik, mudah terbakar,dan pekaerosi.

Di Indonesia sebagian besar Histosols terdapat di pantai timur Sumatera, pantai selatan Kalimantan, dan pantai selatan Papua yang mempunyai ketebalan dan tingkat dekomposisi bervariasi. Tanah dengan tingkat dekomposisi tinggi dan kaya bahan mineral kualitas dan potensinya baik. Tidak demikian pada gambut yang tebal, mengadung pirit atau substratumnya berupa pasir kuarsa. Berdasarkan tingkat dekomposisinya, Histosols dibedakan menjadi Fibrists, Hemists, dan Saprists yang menurunkan grup berikut.

Haplofibrists

Tanah berkembang dari bahan tanah organikyang tergolong fibrik dengan ketebalan bervariasi. Bahan tanah fibrik umumnya lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain. Tanah ini umumnya bersifat masam, miskin unsur hara, dan kapasitas melalukan air tergolong besar. Biasanya berpotensi rendah karena kandungan bahan mineral dan tingkat dekomposisinya rendah.

Sulfihemists

Tanah berkembang dari bahan tanah organik yang tergolong hemik dengan ketebalan dan berat jenis bervariasi. Bahan tanah hemik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain dan memiliki bahan sulfidik yang mengandung pirit didalam 100cm dari permukaan tanah.

Haplohemists

Tanah berkembang dari bahan tanah organik setebal 40 cm atau lebih yang tergolong hemik dengan berat jenis, lembab, sebesar lebih dari 0.1g/cm. Bahan tanah hemik lebih tebal  dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain dan batas atas bahan tanah organik bagian bawah di dalam tier bawah.

Haplosaprists

Tanah berkembang dari bahan tanah organik setebal 40 cm atau lebih yang tergolong saprik dengan berat jenis, lembab, sebesar lebih dari 0.1g/cm. Bahan tanah saprik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain dan batas atas bahan tanah organik bagian tier bawah di dalam tier bawah.

Entisols

Tanah yang tidak memepunyai horison kambik, argilik, kandik, atau natrik di dalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah mineral, tidak memiliki bidangkilir atau ped berbentuk baji, atau rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik pada kedalaman tersebut. Entisols tergolong tanah yang masih sangat muda,terdapat di dataran aluvial, pantai, lereng volkan aktif misalnya: gunung berapi dan lereng curam yang mengalami erosi berat, dapat beriklim basah atau kering. Bahan tanah yang relatif tua dan bersifat resisten terhadap pelapukan juga tergolong dalam Entisols, diantaranya pasir kuarsa dan mineral lain yang resisten. Sifat tanah ini sangat bervariasi, demikian juga dengan kesuburan, kesesuaian dan potensinya yang tergantung dari bahan induk, topografi, lingkungan, dan tingkat erosinya. Pada tingkat subordo, dijumpai Aquents, Fluvents, Orthents, dan Psamments, yang diuraikan sebagai berikut:

Sulfaquents

Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison dibawah kedalaman 25 cm,dan memiliki bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.

Hydraquents

Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison dibawah kedalaman 25 cm. Pada seluruh horison diantara kedalaman 20 cm dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral tergolong belum matang, memiliki nilai-n lebih besar dari 0,7, dan mengandung liat sebesar 8 persen atau lebih pada fraksi tanah-halusnya.

Fluvaquents

Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison di bawah kedalaman 25 cm,dan memiliki penurunan kandungan karbon organik secara tidak teratur dari kedalaman 25 cm sampai 125 cm.

Endoaquents

Tanah yang tidak mempunyai horison kambik, argilik, kandik, atau fragipan di dalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah mineral, dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison di bawah kedalaman 25 cm, dan memiliki bahan sulfidik di lapisan bagian bawah permukaan.

Udifluvents

Tanah yang tergolong belum berkembang dan mem punyai lereng kurang dari 25 persen, rejim suhu tanah isohipertermik, rejim kelembaban udik, dan memiliki penurunan kandungan karbon organik secara tidak teratur mulai dari kedalaman 25 cm sampai kedalaman 125 cm.

Ustorthents

Tanah dengan rejim kelembaban ustik yang tidak mempunyai sifat vertik dan horison kambik, argilik, kandik, atau fragi pan didalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah mineral.

Udorthents

Tanah dengan rejim kelembaban udik yang tidak mempunyai sifat vertik dan horison kambik, argilik, kandik, atau fragi pan didalam kedalaman 100cm dari permukaan tanah mineral.

Quartzipsamments

Tanah yang belum berkembang, pada seluruh lapisan didalam penampang kontrol kelas besar butirnya mempunyai fragmen batuan sebesar kurang dari 35 persen (berdasarkan volume), dengan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar, dan pada fraksi 0,02 sampai 2,0 mm mengandung mineral resisten sebesar lebih dari 90 persen (berdasarkan rata-rata tertimbang).

Ustipsamments

Tanah yang belum berkembang dan mempunyai rejim kelembaban ustik, pada seluruh lapisan didalam penampang kontrol kelas besar butirnya memiliki fragmen batuan sebesar kurang dari 35 persen  (berdasar kanvolume), dan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar.

Udipsamments

Tanah yang belum berkembang dan mempunyai rejim kelembaban udik, pada seluruh lapisan di dalam penampang kontrol kelas besar butirnya memiliki fragmen batuan sebesar kurang dari 35 persen  (berdasarkan volume), dan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar.

Mollisols

Tanah yang mempunyai epipedon molik dan kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih pada keseluruhan horison baik di antara batas atas horison argilik atau kandik dan kedalaman 125 cm di bawah batas atas tersebut. Tanah tergolong cukup berkembang, berwama coklat tua sampai hitam, miskin unsur hara P dan K, kaya bahan organik , dan basa-basa tertukar tergolong tinggi. Di bagian timur Indonesia, tanah ini umumnya dangkal, berkembang dari batu gamping dan permukaannya kasar dan berbatu-batu, serta mudah mengalami kekeringan. Daerah ini banyak digunakan untuk padang rumput. Hanya di daerah volkan tanahnya berpenampang dalam dan kesuburannya lebih baik. Penyebarannya terutama di daerah beriklim kering (ustik), yaitu: di Jawa Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku Selatan. Terdapat tiga subordo, yaitu Rendolls, Udolls, dan Ustolls yang masing-masing menurunkan grup sebagai berikut:

Haprendolls

Tanah yang mempunyai epipedon molik setebal kurang dari 50 cm, pada bahan tanah mineral berdiameter kurang dari 7,5 cm baik didalam maupun langsung dibawah epipedon molik mengandung CaCO setara dengan 40 persen atau lebih,dan rejim kelembaban tanahnya tergolong udik.

Argiudolls

Tanah yang mempunyai epipedon molik, horison argilik, dan rejim kelembaban tanah tergolong udik. Pada keseluruhan horison di antara batas atas horison argilik dan kedalaman 125 cm dari batas atas horison tersebut memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih.

Hapludolls

Tanah yang mempunyai epipedon molik, kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih pada keseluruhan horison di dalam 125 cm,dan memililki rejim kelembaban tanah tergolong udik.

Argiustolls

Tanah yang mempuny aiepipedon molik dan horison argilik pada rejim kelembaban tanahnya tergolong ustik. Pada keseluruhan  horison diantara batas atas horison argililk dan kedalaman 125 cm dari batas atas horison tersebut memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih.

Haplustolls

Tanah yang mempunyai epipedon molik, kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih pada keseluruhan horison didalam 125 cm,dan rejim kelembaban tanahnya tergolong ustik.

Vertisols

Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidangkilir atau ped berbentuk baji, rata-rata tertimbang kandungan liat sebesar 30 persen atau lebih, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik. Biasanya tanah berwarna hitam, miskin bahan organik, dan dominan mineral liat golongan smektit yang berkembang dari bahan induk relatif kaya basa-basa dan agak sulit melalukan air. Meskipun tanah ini kaya basa-basa, tetapi miskin nitrogen dan fosfat. Apabila cukup tersedia air, potensinya sangat baik untuk persawahan, walaupun berat pengolahannya di musim kemarau. Penyebaran Vertisols terutama di daerah beriklim kering dengan bentuk wilayah datar sampai bergelombang, seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Pada tingkat subordo dijumpai Aquerts, Uderts, dan Usterts yang masing-masing menurunkan grup yang diuraikan sebagai berikut:

Endoaquerts

Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik. Di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral terdapat satu horison atau lebih yang mempunyai kondisi akuik pada sebagian waktu dalam tahun-tahun normal (atau telah didrainase) dan matriknya berkroma 1 atau kurang.

Hapluderts

Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik.

Haplusterts

Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka selebar 5 mm atau lebih mencapai ketebalan 25 cm atau lebih, di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral, selama 90 hari kumulatif atau lebih setiap tahunnya pada tahun-tahun normal.

Andisols

Tanah yang mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih dari tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral. Bahan induknya berupa abu/tuf volkan yang kaya gelas volkan. Sifat-sifatnya antara lain adalah: berat isi ringan, kaya bahan organik, kaya gelas volkan, mengandung mineral amorf (alofan), retensi fosfat tergolong tinggi, dan mempunyai sifat tak balik terhadap kekeringan. Dalam keadaan alami daya menahan airnya tinggi sekali dan resisten terhadap erosi, tetapi bila terganggu/kering, daya menahan airnya merosot dan tanah terhadap erosi air/angin. Secara kimia, tanah tergolong subur, sifat fisiknya cukup baik, potensi tinggi, terutama didaerah datar,  sedangkan didaerah berlereng curam terancam erosi. Penyebaran tanah ini cukup luas di daerah volkan baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif, seperti halnya di Sumatera, Jawa, NusaTenggara, Sulawesi, dan Maluku. Pada tingkat subordo dijumpai Aquands, Udands, Ustands, dan Vitrands yang masing-masing menurunkan grup yang diuraikan berikut:

Hydrudands

Udands lain yang mempunyai retensi air pada 1.500 kPa sebesar 100 persen atau lebih pada contoh tanah tidak kering-udara, pada satu lapisan atau lebih dengan ketebalan total 35 cm di antara permukaan tanah mineral dan kedalaman  100 cm dari permukaan tanah mineral atau batas atas lapisan tanah organik dengan sifat-sifat tanah andik.

Hapludands

Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban udik.

Haplustands

Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban ustik.

Ustivitrands

Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban ustik. Pada keseluruhan 60 persen ketebalannya atau lebih memiliki retensi air pada 1.500 kPa kurang dari 15 persen untuk contoh kering-udara dan kurang dari 30 persen untuk contoh tidak kering-udara.

Udivitrands

Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban udik. Pada keseluruhan 60 persen ketebalannya atau lebih memiliki retensi air pada 1.500 kPa kurang dari 15 persen untuk contoh kering-udara dan kurang dari 30 persen untuk contoh tidak kering-udara.

Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s