Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 2)


Sumber : http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/

Download Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia

Inceptisols

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan tanah mineral, atau tidak terdapat bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral. Pada satu atau lebih horison di antara kedalaman 20 dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral yang memiliki nilai-n sebesar 0,7 atau kurang dan mempunyai epipedon histik, molik, atau umbrik.

Tanah ini tergolong masih muda, sifat tanahnya sangat bervariasi bergantung bahan induknya, diantaranya: tekstur lebih halus dari pasir halus berlempung, sangat masam sampai netral, tergantung dari sifat bahan asal dan keadaan lingkungannya. Banyak data menunjukkan penampang tanahnya dangkal dan berbatu terutama di pegunungan atau perbukitan berlereng curam. Terdapat juga Inceptisols yang berbahaya untuk tanaman karena mengandung pirit atau aluminium yang tinggi. Pada tingkat subordo dijumpai Aquepts, Udepts, dan Ustepts yang masing-masing menurunkan grup yang diuraikan sebagai berikut:

Sulfaquepts

Tanah yang mempunyai epipedon histik atau pada lapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahun-tahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta mempunyai horison sulfurik yang batas atasnya didalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.

Halaquepts

Tanah yang mempunyai epipedon histik atau pada lapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahun-tahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta tidak terdapat bahan sulfidik. Tanah ini mempunyai satu horison atau lebih dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral yang memiliki persentase natrium dapat-tukar (ESP) sebesar 15 persen atau lebih (atau SAR sebesar 13 atau lebih),dan terdapat penurunan nilai ESP (atau SAR) dibawah 50 cm seiring dengan bertambahnya kedalaman.

Endoaquepts

Tanah yang mempunyai horison kambik, padalapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahun-tahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta tidak terdapat bahan sulfidik.

Eutrudepts

Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 60 persen atau lebih pada satu horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban udik.

Dystrudepts

Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar kurang dari 60 persen pada satu horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban udik.

Dystrustepts

Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, tidak mengandung karbonat bebas di dalam 200 cm, memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar kurang dari 60 persen pada satu horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban ustik.

Haplustepts

Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban ustik.

Alfisols

Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik. Tanah ini mengalami pelapukan lanjut, dan terjadi translokasi liat, pencucian basa-basa tidak intensif, dan mempunyai horison argilik yang umumnya beriklim kering (mempunyai bulan kering nyata). Kandungan basa-basa tertukar tinggi (KB > 35%), miskin N,  P, dan K, reaksi tanah agak masam sampai netral, dan peka terhadap erosi. Penyebarannya terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Dua subordo Udalfs dan Ustalfs dijumpai diIndonesia yang diantaranya terbagi dalam grup berikut:

Hapludalfs

Tanah yang mempunyai horison argilik yang berada di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan rejim kelembaban udik. Horison argiliknya mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum dan 50 persen atau lebih pada setengah bagian matriks bawahnya memiliki hue 10 YR atau lebih kuning.

Haplustalfs

Tanah yang mempunyai horison argilik yang berada di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan rejim kelembaban ustik. Horison argiliknya mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum dan pada 50 persen atau lebih matriks bagian bawahnya memiliki hue 7.5YR atau lebih kuning.

Ultisols

Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm atau lebih di bawah batas atas horison argilik atau kandik. Tanah ini telah mengalami pelapukan lanjut dan terjadi translokasi liat pada bahan induk yang umumnya terdiri dari bahan kaya aluminium-silika dengan iklim basah. Sifat sifat utamanya mencerminkan kondisi telah mengalami pencucian intensif, diantaranya: miskin unsur hara N, P, dan K, sangat masam sampai masam, miskin bahan organik, lapisan bawah kaya aluminium (Al), dan peka terhadap erosi. Potensinya bervariasi dari rendah sampai sedang dan biasanya digunakan untuk tanaman keras. Penyebarannya terutama di dataran Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Pada tingkat subordo dijumpai Humults, Udults, dan Ustults yang masing-masing menurunkan grup yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Plinthaquults

Tanah yang mempunyai kondisi aquik selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal (atau telah didrainase), pada satu horison atau lebih didalam 50 cm dari permukaan tanah mineral, dan mempunyai gejala redoksimorfik pada semua lapisan di antara kedalaman 25 cm dan 40 cm dari permukaan tanah mineral. Satu horison atau lebih didalam 150 cm dari permukaan tanah mineral, mengandung plintit baik yang berupa fase kontinyu atau menyusun setengah volumenya atau lebih.

Palehumults

Tanah yang mempunyai horison argilik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horison kandik. Di dalam 15 cm bagian atas horison argilik mengandung karbon organik sebesar 0,9 persen (berdasarkan rata-rata tertimbang) atau lebih dan di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral tidak mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif).

Haplohumults

Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horison kandik. Di dalam 15 cm bagian atas horison kandik mengandung karbon organik sebesar 0,9 persen (berdasarkan rata-rata tertimbang) atau lebih.

Plinthudults

Tanah yang mempunyai horison argilik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison argilik. Tanah ini mengandung plintit baik yang berupa fase kontinyu atau menyusun setengah volumenya atau lebih didalam 150 cm dari permukaan tanah mineral.

Kandiudults

Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horison kandik. Di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral tidak mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.

Kanhapludults

Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison kandik. Di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum.Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.

Paleudults

Tanah yang mempunyai horison argilik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison argilik. Di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral tidak mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.

Hapludults

Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison kandik. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.

Haplustults

Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison kandik. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong ustik.

Spodosols

Tanah yang mempunyai horison spodik dan bahan albik pada 50 persen atau lebih dari setiap pedonnya. Horison spodiknya memiliki ketebalan 10 cm atau lebih dengan batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan horison albik berada langsung diatasnya. Spodosol merupakan tanah yang telah berkembang lanjut, biasanya pada bahan induk pasir kuarsa, berdrainase tidak baik, struktur tanah lepas atau masif, sangat miskin unsur hara,dan peka terhadap erosi.Potensi tanah ini tergolong rendah dan tidak digunakan untuk usaha pertanian. Penyebarannya di daerah peralihan antara rawa gambut dan tanah darat terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Pada tingkat subordo dijumpai Aquods, Humods, dan Orthods yang masing-masing menurunkan grup yang dapat diuraikan berikut:

Haplohumods

Tanah yang mempunyai kelas besar butir berpasir dan horison spodik setebal 10 cm atau lebih dengan batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih di bawah permukaan tanah mineral, dan terdapat horison albik langsung di atasnya. Horison spodiknya mengandung karbon organik sebesar 6,0 persen atau lebih.

Haplorthods

Tanah yang mempunyai kelas besar butir berpasir dan horison spodik setebal 10 cm atau lebih dengan batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih di bawah permukaan tanah mineral, dan terdapat horison albik langsung di atasnya.

Oxisols

Tanah yang mempunyai horison oksik dengan batas atas didalam150 cm dari permukaan tanah mineral dan tidak terdapat horison kandik yang memiliki batas atas di dalam kedalaman tersebut, atau mengandung liat sebesar 40 persen atau lebih (berdasarkan berat) dalam fraksi tanah halus dan horison kandik yang memiliki sifat-sifat mineral dapat-lapuk seperti horison oksik dan batas atasnya didalam 100 cm dari permukaan tanah mineral.

Oxisols merupakan tanah yang telah terlapuk sangat lanjut, penampang tanahnya dalam, bertekstur liat, porositasnya tergolong tinggi, daya menahan air kecil, dan didominasi mineral liat kaolinit, oksida besi dan aluminium. Tanah ini relatif resisten terhadap erosi, tergolong sangat miskin unsur hara dan cadangan mineral, kapasitas tukar kation rendah, dan retensi fosfat tinggi. Penyebarannya terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Dua subordo yaitu : Udox dan Ustox telah dijumpai dan masing-masing menurunkan grup yang dapat diuraikan berikut:

Eutrudox

Tanah yang mempunyai horison oksik dengan batas atas di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan tidak terdapat horison kandik yang memiliki batas atas di dalam kedalaman tersebut, atau tanah yang mengandung liat sebesar 40 persen atau lebih (berdasarkan berat) dalamfraksi tanah halus dan horison kandik yang memiliki sifat-sifat mineral dapat-lapuk seperti horison oksik dan batas atasnya di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 35 persen atau lebih pada seluruh horison di dalam 125 cm dari permukaan tanah mineral.

Hapludox

Tanah yang mempunyai horison oksik dengan batas atas di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan tidak terdapat horison kandik yang memiliki batas atas di dalam kedalaman tersebut. Rejim kelembaban tanahnya tergolong udik.

Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s