Ekosistem Gambut (Bagian 1)


Pengertian Ekosistem Gambut

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 persen, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 centimeter. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 centimeter disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan-bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob.

Lahan gambut dapat menempati cekungan, depresi, atau bagian-bagian terendah di pelembahan, dan penyebarannya di dataran rendah sampai dataran tinggi. Selain itu lahan gambut juga terbentuk di daerah rawa, yang umumnya merupakan posisi peralihan di antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Sepanjang tahun atau dalam jangka waktu yang panjang dalam setahun, lahan ini selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang air.

Berdasarkan ketebalannya, gambut dibedakan menjadi 4 tipe:

  1. Gambut Dangkal, dengan ketebalan 0.5 – 1.0 m
  2. Gambut Sedang, memiliki ketebalan 1.0 – 2.0 m
  3. Gambut Dalam, dengan ketebalan 2.0 – 3.0 m
  4. Gambut Sangat Dalam, yang memiliki ketebalan melebihi 3.0.

Berdasarkan kematangannya, gambut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Fibrik, digolongkan demikian apabila bahan vegetatif aslinya masih dapat diidentifikasikan atau telah sedikit mengalami dekomposisi
  2. Hemik, disebut demikian apabila tingkat dekomposisinya sedang
  3. Saprik, merupakan penggolongan terakhir yang apabila telah mengalami tingkat dekomposisi lanjut.

Tanah Gambut secara umum memiliki kadar pH yang rendah,  kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah pula.

Sebaran Kawasan Gambut di Indonesia

Di Indonesia, keberadaan lahan gambut paling banyak dijumpai pada lahan rawa dataran rendah di sepanjang pantai. Hamparan lahan gambut yang sangat luas, umumnya menempati depresi-depresi yang terdapat di antara aliran sungai–sungai besar di dekat muara yang gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Pola penyebaran dataran dan kubah gambut adalah terbentang pada cekungan luas di antara sungai-sungai besar, dari dataran pantai ke arah hulu sungai.

Indonesia merupakan negara keempat dengan luas lahan rawa gambut terluas di dunia  (Euroconsult, 1984), yaitu sekitar 20 juta ha, setelah Kanada (170 juta ha), USSR (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Berdasarkan berbagai laporan, ternyata luas lahan gambut di Indonesia sangat bervariasi,  yaitu antara 13,5-26,5 juta ha (rata-rata 20 juta ha). Jika luas gambut Indonesia diperkirakan ada 20 juta ha, maka sekitar 50% gambut tropika dunia (yang luas totalnya sekitar 40 juta ha) berada di Indonesia.

Tabel Luas dan Penyebaran Lahan Gambut Tahun 2002 di Pulau Sumatera

Tabel Luas dan Penyebaran Lahan Gambut Tahun 2002 di Pulau Kalimantan

Tabel Luas dan Penyebaran Lahan Gambut Tahun 2002 di Pulau Papua

Karakteristik Ekosistem Gambut

Karakteristik Fisik

Karakteristik fisik yang penting meliputi sifat-sifat fisik gambut, yaitu kematangan, kerapatan isi dan ketebalan gambut, sifat hidrotopografi, sedimen di bawah gambut, sifat biologis yang mencakup flora, fauna, dan sifat kimia yang semuanya saling berinteraksi membentuk kesatuan lahan gambut yang unik dan mempunyai bentuk ruang yang spesifik.

Gambut tropika terbentuk dari sisa-sisa pepohonan, dan secara spesifik memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan gambut suptropika yang terbentuk dari sedge dan lumut-lumutan sehingga menghasilkan gambut yang relatif homogen. Seperti gambut tropis lainnya, gambut di Indonesia dibentuk oleh akumulasi residu vegetasi hutan tropis yang kaya akan kandungan lignin dan selulosa (Andriesse, 1988). Karena lambatnya proses dekomposisi, di dalam tanah gambut sering dijumpai adanya timbunan batang, cabang dan akar tumbuhan besar yang terawetkan dan strukturnya relatif masih nampak jelas.

Gambut di Indonesia ditemukan di pegunungan dan dataran rendah. Gambut di pegunungan relatif terbatas, sehingga jarang menjadi isu penting. Sedangkan gambut dataran rendah mempunyai ukuran relatif luas, dapat dibagi menjadi gambut ombrogen, yang terbentuk jauh dari pengaruh pasang surut air laut ataupun sungai sehingga memiliki kesuburan yang sangat rendah, dan gambut topogen yang masih memperoleh pengaruh pasang surut sehingga lebih subur.

Kematangan tanah gambut yang menunjukkan tingkat dekomposisi gambut merupakan salah satu parameter penting dalam pendugaan daya dukung gambut. Demikian pentingnya informasi tersebut sehingga tingkat dekomposisi ini dijadikan dasar untuk penilaian subgroup dalam sistem taksonomi tanah. Berdasarkan tingkat dekomposisinya, gambut dibedakan menjadi gambut dengan tingkat kematangan fibrik, hemik dan saprik.  Gambut dengan tingkat kematangan fibrik adalah gambut dimana bahan organiknya masih belum terlalu terdekomposisi dan dicirikan dengan masih terlihatnya sifat-sifat dari jaringan tanaman.  Sebaliknya gambut dengan tingkat kematangan saprik adalah gambut dimana bahan organiknya telah terdekomposisi lanjut, sedangkan hemik adalah gambut dimana tingkat dekomposisi bahan organik antara keduanya. Tingkat dekomposisi gambut sangat berhubungan dengan kesuburannya, tanah yang mempunyai tingkat kematangan saprik lebih subur dari pada tanah dengan tingkat kematangan  fibrik.

Perlu diperhatikan bahwa parameter tingkat kematangan gambut tersebut hingga saat ini masih ditetapkan dengan metodologi yang tidak mencerminkan sifat gambut tropika yang sebenarnya. Parameter lainnya yang juga penting dalam pendugaan daya dukung gambut.adalah kerapatan isi tanah.  Kerapatan isi tanah merupakan besaran berat tanah kering (g) dibagi volume tanah utuh (cm3). Variasi nilai bobot isi ini sangat erat hubungannya dengan tingkat kematangan gambut.  Semakin matang gambut semakin besar nilai bobot isinya.

Perlu diperhatikan bahwa seperti juga pada tingkat kematangan gambut,  hingga saat ini  parameter kerapatan isi masih ditetapkan dengan metodologi kurang sesuai untuk gambut tropika. Padahal nilai bobot isi ini diperlukan untuk semua perhitungan, seperti penentuan kandungan unsur-unsur seperti karbon, kandungan padatan dan keadaan porositas tanah. Ketebalan gambut yang dijumpai dalam keadaan alami sangat tergantung dengan umur pembentukan tanah gambut tersebut. Berdasarkan lokasi tempat terbentuknya gambut dapat dibagi kedalam: gambut pantai dan gambut pedalaman. Gambut pantai (coastal peat) umumnya mempunyai ketebalan lebih tipis dari pada gambut pedalaman yang terbentuk pada teras pleistosen. Berkaitan dengan kedua sifat sebelumnya, umumnya pada lapisan permukaan gambut cenderung lebih matang dan kerapatannya semakin tinggi. Ketiga sifat dasar ini sangat menentukan kesuburan dan daya dukung lingkungan gambut.

Walaupun pemanfaatan lahan rawa gambut secara besar-besaran oleh pemerintah telah dimulai sejak tahun 70-an, akan tetapi informasi ketebalan gambut yang akurat pada saat awal pembukaan lahan sangat sulit diperoleh.  Hal ini disebabkan oleh identifikasi tanah gambut pada waktu itu umumnya lebih ditujukan untuk mengklasifikasikannya ke dalam sistem Soil Taxonomy  yaitu identifikasi profil tanah hanya didasarkan pada kedalaman maksimum dua atau tiga meter.  Akibatnya ketebalan gambut umumnya hanya dinyatakan sebagai  >2 meter atau  >3 meter dan berapa nilai persisnya tidak diketahui.

Pembukaan lahan gambut untuk berbagai keperluan sering dilakukan dengan membangun jaringan drainase.  Akibatnya akan terjadi penurunan permukaan gambut (subsidence) sebagai akibat dari kehilangan air dan meningkatnya proses dekomposisi bahan organik. Setelah gambut mengering, gambut tersebut akan sulit menjadi basah atau lembab kembali, karena sifatnya yang irreversible drying. Partikel-partikel gambut yang telah mengering sering disebut pseudosand yang mudah tererosi oleh angin maupun terbawa oleh aliran air dan  juga menjadi mudah terbakar.

Hidrotopografi

Ekosostem Gambut (Bagian 2)

//

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s