Ekosistem Gambut (Bagian 2)


Hidrotopografi

(Survey dan Pemetaan Lahan) – Hidrotopografi mencerminkan kaitan antara topografi gambut dengan permukaan air tanah. Pada kawasan gambut yang mempunyai kubah, semakin ke pusat kubah permukaan air tanah semakin dalam. Dengan demikian apabila dibuat saluran drainase di kawasan kubah, maka air cenderung akan keluar dari kawasan tersebut. Akibat selanjutannya adalah berkurang atau hilangnya kemampuan untuk menahan intrusi air laut.  Pada kawasan gambut yang tidak mempunyai kubah, air tanah selalu menggenang pada saat musim hujan atau saat fluktuasi air naik (contohnya kasus Rawa Lebak). Pada kawasan ini air tanah lebih sulit diatur kecuali dibuat penahan. Variasi kondisi ini diikuti juga oleh perbedaan kualitas air tanah dan kesuburan tanah gambut itu sendiri.

Sedimen di Bawah Gambut

Pengalaman menunjukkan bahwa hampir semua lahan gambut yang bermasalah selalu berhubungan dengan meningkatnya kemasaman tanah pada lahan tersebut sebagai akibat dari teroksidasinya mineral pirit di bawah lapisan gambut.

Tipe sedimen di bawah lapisan gambut sangat bervariasi karena gambut di Indonesia terbentuk di lingkungan yang sangat beragam. Secara garis besar gambut dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

  1. Gambut pleistosen teras, yang terletak di atas sedimen kuarsa putih (seperti di Palangkaraya,
  2. Berengbengkel Pangkalan Bun, Tanjung Putting) dan umumnya berkembang menjadi hutan Kerangas, atau di atas sedimen liat,
  3. Gambut sistem sungai, yang terletak di atas sedimen liat dengan lingkungan pengendapan sungai (Rawa Lakbok, Rawa Pening), atau di atas sedimen kapur (Kolonodale Sulteng),
  4. Gambut sistem pantai, yang terletak di atas sedimen sistem mangrove, laguna, beting pasir, pasir pantai, dan sebagainya.

Masing-masing sedimen di bawah gambut tersebut menunjukkan sifat yang sama sekali berbeda, oleh karena itu prinsip kebijakan pengelolaan lahan gambut harus sangat memperhatikan aspek ini. Continue reading