Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 2)


kerusakan lahan1

4. Banjir dan Genangan

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Banjir dan genangan merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan. Hal ini terutama terkait dengan lamanya dan ketinggian genangan yang mengakibatkan kerusakan terhadap tanah serta unsur biotis yang ada. Dimana tanah dan unsur biotis yang tergenang dalam jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan kerusakan dan bahkan kematian terhadap unsur biotis tersebut, selain itu unsur-unsur hara pada tanah dapat hilang karena ikut terhanyut terbawa oleh aliran banjir tersebut. Semaikin lama terjadi genangan atau banjir pada suatu daerah maka dampak yang diakibatkannya pun akan semakin besar.

Continue reading

Advertisements

Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 1)


kerusakan lahan2

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Berdasarkan UU no. 41/2009 lahan merupakan bagian daratan dari permukaan bumi sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia.

Sedangkan definisi Kerusakan lahan menurut PERMEN RI No.4/2001 adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lahan tidak lagi dapat berfungsi secara optimal dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.

Continue reading

Ekosistem Gambut (Bagian 2)


Hidrotopografi

(Survey dan Pemetaan Lahan) – Hidrotopografi mencerminkan kaitan antara topografi gambut dengan permukaan air tanah. Pada kawasan gambut yang mempunyai kubah, semakin ke pusat kubah permukaan air tanah semakin dalam. Dengan demikian apabila dibuat saluran drainase di kawasan kubah, maka air cenderung akan keluar dari kawasan tersebut. Akibat selanjutannya adalah berkurang atau hilangnya kemampuan untuk menahan intrusi air laut.  Pada kawasan gambut yang tidak mempunyai kubah, air tanah selalu menggenang pada saat musim hujan atau saat fluktuasi air naik (contohnya kasus Rawa Lebak). Pada kawasan ini air tanah lebih sulit diatur kecuali dibuat penahan. Variasi kondisi ini diikuti juga oleh perbedaan kualitas air tanah dan kesuburan tanah gambut itu sendiri.

Sedimen di Bawah Gambut

Pengalaman menunjukkan bahwa hampir semua lahan gambut yang bermasalah selalu berhubungan dengan meningkatnya kemasaman tanah pada lahan tersebut sebagai akibat dari teroksidasinya mineral pirit di bawah lapisan gambut.

Tipe sedimen di bawah lapisan gambut sangat bervariasi karena gambut di Indonesia terbentuk di lingkungan yang sangat beragam. Secara garis besar gambut dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

  1. Gambut pleistosen teras, yang terletak di atas sedimen kuarsa putih (seperti di Palangkaraya,
  2. Berengbengkel Pangkalan Bun, Tanjung Putting) dan umumnya berkembang menjadi hutan Kerangas, atau di atas sedimen liat,
  3. Gambut sistem sungai, yang terletak di atas sedimen liat dengan lingkungan pengendapan sungai (Rawa Lakbok, Rawa Pening), atau di atas sedimen kapur (Kolonodale Sulteng),
  4. Gambut sistem pantai, yang terletak di atas sedimen sistem mangrove, laguna, beting pasir, pasir pantai, dan sebagainya.

Masing-masing sedimen di bawah gambut tersebut menunjukkan sifat yang sama sekali berbeda, oleh karena itu prinsip kebijakan pengelolaan lahan gambut harus sangat memperhatikan aspek ini. Continue reading

Ekosistem Gambut (Bagian 1)


Pengertian Ekosistem Gambut

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 persen, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 centimeter. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 centimeter disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan-bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob.

Lahan gambut dapat menempati cekungan, depresi, atau bagian-bagian terendah di pelembahan, dan penyebarannya di dataran rendah sampai dataran tinggi. Selain itu lahan gambut juga terbentuk di daerah rawa, yang umumnya merupakan posisi peralihan di antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Sepanjang tahun atau dalam jangka waktu yang panjang dalam setahun, lahan ini selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang air.

Berdasarkan ketebalannya, gambut dibedakan menjadi 4 tipe:

  1. Gambut Dangkal, dengan ketebalan 0.5 – 1.0 m
  2. Gambut Sedang, memiliki ketebalan 1.0 – 2.0 m
  3. Gambut Dalam, dengan ketebalan 2.0 – 3.0 m
  4. Gambut Sangat Dalam, yang memiliki ketebalan melebihi 3.0.

Berdasarkan kematangannya, gambut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Fibrik, digolongkan demikian apabila bahan vegetatif aslinya masih dapat diidentifikasikan atau telah sedikit mengalami dekomposisi
  2. Hemik, disebut demikian apabila tingkat dekomposisinya sedang
  3. Saprik, merupakan penggolongan terakhir yang apabila telah mengalami tingkat dekomposisi lanjut.

Tanah Gambut secara umum memiliki kadar pH yang rendah,  kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah pula. Continue reading

Evaluasi Lahan


Pengertian Evaluasi Lahan

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Pada umumnya survey tanah adalah bertujuan untuk mengevaluasi lahan dalam rangka untuk menyusun rencana penggunaan lahan dalam bentuk klasifikasi kesesuaian dan kemampuan lahan (potensi lahan). Evaluasi merupakan intepretasi dalam keadaan tata guna lahan saat ini, perubahannya serta dampaknya yang tidak mengacu pada suatu metode evaluasi atau klasifikasi. Klasifikasi menunjukkan tipe penggunaan yang sesuai dan jenis masukan yang diperlukan untuk produksi tanaman secara lestari.

Perubahan lahan pada dasarnya sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomi, konsekwensi sosial serta dampaknya terhadap lingkungan. Dengan demikian maka melalui evaluasi lahan diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. Continue reading

Klasifikasi Kesesuaian Lahan


(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Klasifikasi lahan dapat dibagi menjadi 2 yaitu, klasifikasi kuantitatif dan klasifikasi kualitatif berdasarkan dari data yang ada atau yang tersedia (FAO). Klasifikasi kuantitatif adalah klasifikasi yang memuat informasi kepada pemakai bahwa dimana hasil penelitian beserta unsur-unsur ekonomi telah dipetimbangkan didalamnya. Jika dalam suatu penelitian belum mempertimbangkan unsur-unsur ekonomi maka belum dianggap sebagai klasifikasi kuantitatif. Klasifikasi kesesuaian lahan dapat dibagi menjadi 4 kategori yang merupakan hasil generalisasi yang bersifat menurun yaitu; (1) ordo kesesuaian lahan (order): menunjukkan jenis atau macam kesesuaian atau keadaan kesesuaian secara umum, (2) kelas kesesuaian lahan (class): menunjukkan tingkat kesesuaian dalam kelas, (3) subkelas kesesuaian lahan (subclass): menunjukkan jenis pembatas (subkelas atau macam perbaikan yang diperlukan di dalam kelas, (4) unit/satuan kesesuaian lahan (unit): menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam subkelas. Continue reading

Jenis-jenis Tanah di Indonesia (bagian 2)


Tanah Lateritik

(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) – Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.

Tanah Podzolik Merah Kuning

Tanah Podzolik Merah Kuning di Indonesia mempunyai lapisan permukaan yang sangat terlindi berwarna kelabu cerah sampai kekuningan di atas horison akumulasi yang bertekstur relatif berat berwarna merah atau kuning dengan struktur gumpal, agregat kurang stabil dan permeabilitas rendah. Kandungan bahan organik penjenuhan basa dan pH rendah (4,2 – 4,8). Perkembangan lapisan permukaan yang terlindi kadang-kadang kurang nyata. Jenis tanah ini di Indonesia terbentuk dalam daerah beriklim seperti Latosol, perbedaannya hanya karena bahan induk Latosol berasal dari batuan vulkanik basa dan intermediate, sedangkan tanah podzolik berasal dari batuan beku dan tuff. Sebaran tanah podzolok merah kuning di Indonesia tersebar di beberapa wilayah diantaranya di Sumatera, Kalimantan, Jawa Tengah, dan Jawa Timu, yang dimanfaatkan untuk daerah perladangan dan perkebunan karet. Continue reading